Sunday, February 22, 2015

The Theory of Expanding Value

Kunci sukses investasi dalam jangka panjang adalah bekerjanya sistem compounding. Ketika kita secara kontinyu berhasil mengembangkan investasi kita sebesar 30% per tahun, hasilnya akan jauh berbeda dengan apabila kita hanya berhasil mengembangkan investasi kita sebesar 20% per tahun.

Katakanlah kita berinvestasi sebesar Rp 10 juta. 10 tahun dari sekarang, apabila kita berhasil mendapatkan return 30% per tahun, maka investasi kita akan bernilai Rp 138 juta. Apabila ternyata kita hanya mendapatkan return 20% per tahun, maka nilai investasi kita hanya bernilai Rp 62 juta, atau hampir separuhnya. Itulah efek dari compounding. Oleh karena itu, kita harus memberikan perhatian khusus untuk permasalahan ini.

Ada 3 kunci kesuksesan compounding yaitu: membeli saham ketika terdiskon cukup besar dari harga wajarnya, adanya kenaikan harga wajar dari tahun ke tahun, dan harga pasar cenderung mengikuti harga wajarnya.


[*]Membeli saham dengan diskon. Dengan membeli saham yang sedang diskon, maka kita memberikan ruang kepada saham tersebut untuk bergerakmendekati harga wajarnya. Hal ini pun berlaku bagi saham-saham yang growthnya nol. Semakin besar diskon yang kita dapatkan, semakin besar potential returnnya. Salah satu waktu yang paling bagus untuk mendapatkan diskon adalah saat terjadi koreksi/crash karena ketika terjadi crash, bahkan saham yang bagus pun ikut terseret turun karena adanya kepanikan pasar.

[*]Adanya kenaikan harga wajar dari tahun ke tahun. Sumber dari kenaikan harga wajar adalah adanya kenaikan laba secara konsisten. Kemampuan manajemen untuk mengelola sumber daya dan dimilikinya sangat menentukan hal tersebut. Hal ini pula lah yang membedakan style Ben Graham dengan Warren Buffett. Graham memberikan penekanan yang lebih besar pada poin 1 (membeli ketika diskon) sedangkan Buffett lebih menyukai adanya kenaikan harga wajar secara konsisten. Hal ini hanya dapat dicapai oleh perusahaan yang disebut Buffett sebagai ‘wonderful’. Salah satu perusahaan yang masuk kategori ini adalah Unilever, Astra, atau Indofood. Bisakah kita membayangkan ada supermarket yang tidak menjual Pepsodent atau Indomie?

[*]Harga pasar cenderung mengikuti harga pasarnya. Hal ini memang terkadang menjadi momok bagi para value investor. Selalu ada kemungkinan harga saham tidak mengikuti kenaikan valuenya atau pada scenario, harganya naik akan tetapi selalu berada di bawah harga wajarnya. Apabila kita mendapatkan perusahaan dengan bisnis yang bagus, maka walaupun harganya tidak bisa kembali ke harga wajarnya, masih ada kenaikan karena harga wajarnya terus naik dari tahun ke tahun.

Kesimpulannya, kita akan mendapatkan banyak keuntungan dengan berinvestasi pada perusahaan dengan bisnis yang luar biasa karena mereka mempunyai kemampuan untuk meningkatkan valuenya dari tahun ke tahun. Mary Buffett dalam bukunya “Buffetology” memberikan istilah “The Theory of Expanding Value”.


Terlihat bahwa Buffett berhasil menyempurnakan teori value investing yang dipelopori oleh Ben Graham karena dia melihat bahwa seringkali suatu saham tidak bisa kembali pada harga wajarnya karena memang bisnisnya biasa-biasa saja. Saham perusahaan dengan bisnis yang bagus, lebih berpotensi untuk dijual mendekati harga wajarnya. 

No comments:

Post a Comment