Friday, February 13, 2015

Outlook Ekonomi Indonesia 2015 dilihari dari February 2015 Plus Kenaikan Saham 2014

http://www.saham.ws/oil-price-assumption-set-at-us60barrel/

Dalam meng-analisa fundamental ekonomi Indonesia, kali ini 3 indikator utama yang akan say pakai adalah
1. Posisi Yield obligasi 10 tahun Indonesia,. yang saat ini berada di level 7,4% (bandingkan tahun lalu sempat 9%)
2. Posisi cadfangan devisa january yang terus naik, hingga ke level $114 milliard US dollar dan
3. Posisi defisit transaksi berjalan / curret account deficit / CAD yang akan mengecil ,
dan juga karena harga minyak masih setengah harga tertinggi tahun lalu, jadi CAD berpotensi makin kecil
Saya sengaja tidak pakai nilai tukar rupiah sebagai indikator ekonomi karena nilai tukar rupiah adalah refleksi dari ketiga indikator di atas. Kalaui rupiah melemah, = asing buang obligasi = yield, naik. Kalau rupiah melemah tapi Bank Sentral punya cadangan devisa, maka bisa intervensi, dan kalau defisit mengecil maka rupiahd engansendirinya akan menguat.Jadidibandingrupiah,tigaindikatodiataslebih pentinKarena ketiga indikator di atas sifatnya memang lebih fundamental dari rupiah yang penuh spekulasi... Maaf kali ini maternya bakal bikin ngantuk,, say abiasa kalau udah jelasin ini di training, bisa ada yang ketiduran hehehe, tapi percayalah , dongeng yang akan saya ceritakan , sangat bermanfaat, minimal buat pengetahuan lah
Apa hubungannya dengan saham ? Hubungan utama memang ada di nilai Tukar RUPIAHMisal #GJTL yang memiliki hutang besar dalam US Dollar,ketika rupiah melemah, maka harga #GJTL pun akan ikut melemah , karena sentienn dan kerugian karena penguatan mata uang USD.Dan laba #GJTL padaQ3 2014 hanya 225 M, atau EPS hanya RP. 65 per saham, setara RP. 87 per saham FY2014, kalau kita hanya menganalisa berdasarkan PER saja, maka kita akan mendapati #GJTL sudah mahal, sebab saat ini dengan EPS 87,mka PER #GJTL telah mencapai sekitar 17x.
Namun perlu kita lihat lebih detil, ternyata di Laba RP. 225, ada Kerugian mata uang asing sebesar RP. 46 M, yang jika kita hilangkan maka Laba #GJTL akan menjadi Rp. 271 M atau EPS Q3 menjari sekitar 79 atau FY akan menjadi RP. 120 per saham. Sehingga saat ini #GJTL hanya dihargai dengan PE sebesar 12x saja.
Apalagi jika nantyinya Rupiah menguat, maka kerugian mata uang asing akan berubah menjadi keuntungan karena penguatan Nilai tukar rupiah.
#GJTL adalah salah satu contoh saja. masih banyak lagi perusahaan yang labanya turun karena penguatan USD Kembali ke analisa ekonomi Indonesia
1. Posisi Yield saat ini terus turun dari 9% ke sempat 6,9%, dan saat ini naik ke 7,4% karena faktor Politik dalam negeri dan juga Yunani, namun melihat trend yang ada saya cenderung melihat Yiled masih akan turun, apalagi Indonesia saat ini adalah salah atu negara yang ekonominya maish terus tumbuh di saat negara - negara lain ekonominya turun
2. Posisi cadangan devisa Indonesia yang besar saat ini menandakan BI belum terlalu intervensi Nilai tukar rupiah, yang saat in sampat tembus 12.800 atau terendah sejak krismon 1998. Kondisinya saat ini cadangan devisa Indonesia tergollng tertinggi sepanjang sejarah, jadi saya rasa BI masih punyabanyak "peluru" apabiilah ternyata nanti diperlukan3. Masalah utama indonesia selama beberap tahun terakhir ada di defisit transaksi berjalan, dan ada 2 komponen utam penyebab defisit ini, ini mungkin Lucu, tapi tahun lalu sempat import HP ./ Ponsel sempat merupakan penyebab defisit terbesar nomer 2 migas,klo ga salah bulan february -april saya lupadan saya lihat pemerintah dengan menaikan harga BBM dan Mewjibkan produksi HP di dalam negeri akan menguragi defisit dari faktor - faktor di ata saya optimis bahwa tahun 20156 ini rupiah akan menguat palingtidak ke 11.000-11.500 mungkin dalam beberapa bulan ke depan.

JIka harga minyak stabil atau tuerun di bawah $60, saya makin optimis Inflasi akan turun , dan ujung2nya rupiah menguat lagi
Mengenai Stockpick2015 salah stu disebutkan di atas #GJTL dengan asumsi Rupiah bakal menguat saya cukup optiis #GJTL Bisa ke atas 2500 tahun ini . Apalagi tahun ini indonesia akan menjadi basisproduksi otomotif di asia tenggara
Beberpa pabrikan besar seperti TOyota, VW, Mitsubishi sudah cenderung menjadikan Indonesia sebagai basis produksi otomotif, maka tahun ini saya berencana akan mulai mengarahkan portofolio ke sketor otomotof, mungkin beberapateman suah tau saya sudah masuk ke #AMFG #NIPS #ASSA dan #GJTL, walaupun masih di bawah 20% portofolio.
Hal ini juga bisa dilihat pada #GJTL dan #AMFG yang sejak tahun 2013 mulai menambah kapasitas produksi, dan diperkirakan tahun 2015 ini penamabhan kapasitas produksi #GJTL dan #AMFG siap untuk digunakan
[Singkirkan Thailand, Indonesia Kuasai Pasar Otomotif Asean]
Bacaan : Otomotif Indonesia saat ini terbesar di Asia Tenggara, melewati Thailand http://goo.gl/f3Brs0


[BeritaSatu.Com - Blog Tajuk - Indonesia Basis Produksi Dunia]
Indonesia basis produksi dunia http://goo.gl/gWCKlP
Dan jika program Jokowi membangun infrastruktur yang lebih baik terus jalan maka say aoptimis pertunbuhan ekonomi bisa stabil di kisaran 5% dan juga dengan infrastuktur jalan yang makin baik, akan mendorong masyarakat untuk lebih banyak membeli kendaraan roda empat (misal tol jawa , da sumatera jadi)
Nah , apakah sektor Infra bagus buat di Investasikan ? Bagus sih Iya , bagus, tyapi di harga saat ini saya rasa sudah cukup mahal, sehingga saya rasa keuntunganya tidak akan maksimal..
Juga rencana pemerintah menguragi jumlah operator Telko menjadi hanya 3-4 operatir menurut saya akan membuat #TLKM growth luar biasa, tentu #TELE sebagai disstributor pulsanya akan kecipratan, target #TELE tahun ini bisa ke 1500-2000
pak @hendrik_lwww , d analisa ekonomi nya, utk saham yg lg seru2 d bhs seperti ASSA dan DYAN bagaimana prospek nya?
ijin nyimak.. thanks udah mau share

@mangamsi yang paling saya kenal sih #GJTL sebab pernah cuan dan rugi dari saham ini juga mungkin saham - saham perbankan dan Telekomunkasi paling kena sebab banyak biaya nya dalam mata uang asing, #ACES produknya jug abanyakan impo
@cygnoides dengan asumsi pertunvbbuhan ekonomi bisa 5% saya rasa #DYAN paling tidak bisa growth 10% , tahun lalu memang buat #PANR dan #DYAN agak lemah karena tyahun pemilu orang2 pada tyakut, ingat tahun lalu prabowo mau ngomong aja jakarta kabarnya bisa sepi kan
Target pemerintah hingga 2019 , Target wisman / wisatawan mancanegara akan meningkat 100%< saya rasa ini positif buat #DYAN dan #PANR, sebab indonesia ini objekwisata yang emnarik itu luar biasa banyak, hanya saja promosinya sangat kurang
kalau promosi ini bisa ditingkatkan, saya rasa hotel2 tingat okupansinya bakal melejit
Mbah...ACES Ku banyak masih rugi 14% cuma kata teman yg merupakan pimpinan ACES mereka akan banyak buka toko di kota besar....makanya aku tdk cut loss.
@BeNy menruut saya , salah satu bahaya terbesar dalam traing adalh mendengarkan insider pak, memang mungkin bisa cuan pak, tapi bahayanya adalah kalau dibawa turun trus dan kita ga CL dengan harapan naik, kalau benar naik, 2 tahun lagi kan putyeng pak ,mnrut saya tetap fokus ke fundamental / chart aja , ini sekedar pendapat aja


PANR diam2 sudah lewat ma50 ha..ha..ha..

@papapu3 hehe iya, saya ada masuk di 475-476, kayaknya bisa ke atas 500, tapi mungkn agak slow motion


@hendrik_lwww setuju pak, teman saya juga ada yang dengar info dari katanya dekat dengan owner nya #SIDO katanya mau ekspansi dan sebagainya tetapi tetap saja kembali ke chart. akhirnya dia cut loss hehe.. true story pak..

Saya pernah main PANR di paruh kedua Okt 2014. Waktu itu utk shortterm trading sangat menarik, krn baru masuk fraksi 500, sayang di akhir bulan longsor, dan bablas sampai 427 (-20%). Belakangan pelan2 merayap, menarik, tapi saya nanti2 saja, kalau kembali ke fraksi 500. IMHO.
@hendrik_lwww aku pernah beli SSIA pada harga 830...tiba2 longsor sampai 600an....dalam 6bln naik 1.100an pak.yg buat saya menahan krn fundamental dan historis harga pak...nah kasus ACES kalau dilihat historis harga sampai 1000 fundamental jg bagus

Daftar Group dan kenaikan/penurunan harga sahamnya dari 1 jan 2014-13 Des 2014


1.BUMN
$BMRI 7850~10750 = 36.94%
$BBRI 7250~11650 = 60.69%
$BBNI 3950~6000 = 51.90%
$BBTN 870~1170 = 34.48%
$AGRO 118~108 = -8.47%
$WIKA 1580~3345 = 111.71%
$ADHI 1510~3080 = 103.97%
$PTPP 1160~3325 = 186.64%
$WSKT 405~1220 = 201.23%
$SMGR 14150~16525 = 16.78%
$SMBR 330~387 = 17.27%
$TLKM 2150~2825 = 31.40%
$PGAS 4475~6000 = 34.08%
$JSMR 4725~6900 = 46.03%
$GIAA 496~605 = 21.98%
$KAEF 590~1425 = 141.53%
$INAF 153~372 = 143.14%
$ELSA 330~660 = 100.00%
$PTBA 10200~12950 = 26.96%
$TINS 1081~1185 = 9.62%
$ANTM 1090~970 = -11.01%
$KRAS 495~480 = -3.03%

2.BUMD
$BJBR 890~775 = -12.92%
$BJTM 375~460 = 22.67%
$PJAA 1090~1550 = 42.20%

3.Jardine
$ASII 6800~7175 = 5.51%
$AUTO 3650~3800 = 4.11%
$BNLI 1260~1510 = 19.84%
$UNTR 19000~17100 = -10.00%
$AALI 25100~23675 = -5.68%
$ASGR 1670~1950 = 16.77%
$TURI 530~600 = 13.21%
$HERO 2425~2460 = 1.44%

4.Saratoga
$SRTG 4800~4935 = 2.81%
$TBIG 5800~9550 = 64.66%
$ADRO 1090~1025 = -5.96%
$MPMX 1280~850 = -33.59%
$PALM 360~498 = 38.33%
$BEKS 84~79 = -5.95%
$MITI 297~188 = -36.70%

5.Triputra
$ASSA 280~177 = -36.79%
$DSNG 2050~3750 = 82.93%

6.Grup SSIA
$SSIA 560~1075 = 91.96%
$NRCA 670~1205 = 79.85%

7.Djarum
$BBCA 9600~13250 = 38.02%
$AHAP 168~210 = 25.00%
$TOWR 2750~4100 = 49.09%

8.Salim
$INDF 6600~6550 = -0.76%
$ICBP 10200~11700 = 14.71%
$ROTI 1020~1300 = 27.45%
$FAST 1900~2085 = 9.74%
$DNET 800~875 = 9.38%
$LSIP 1930~1945 = 0.78%
$SIMP 780~735 = -5.77%
$IMAS 4900~3140 = -35.92%
$IPOL 107~140 = 30.84%

9.Ciputra
$CTRA 750~1285 = 71.33%
$CTRS 1310~2935 = 124.05%
$CTRP 620~870 = 40.32%
$MTLA 380~470 = 23.68%
$MTDL 285~620 = 117.54%
$TMPO 158~128 = -18.99%

10.Lippo
$MLPL 360~895 = 148.61%
$LPKR 910~1100 = 20.88%
$LPCK 4875~10600 = 117.44%
$GMTD 8300~6700 = -19.28%
$MPPA 1940~3600 = 85.57%
$LPPF 11000~15200 = 38.18%
$NOBU 590~765 = 29.66%
$LPGI 3275~4400 = 34.35%
$LPLI 480~665 = 38.54%
$LPPS 194~221 = 13.92%
$LPIN 5000~6200 = 24.00%
$KBLV 580~2495 = 330.17%
$LINK 1600~5200 = 225.00%
$MLPT 1010~1020 = 0.99%
$SILO 9500~14600 = 53.68%

11.Sinarmas
$BSDE 1290~1785 = 38.37%
$PLIN 2000~3000 = 50.00%
$DUTI 4475~4650 = 3.91%
$SMAR 7850~7950 = 1.27%
$GEMS 2175~2000 = -8.05%
$DSSA 13500~12900 = -4.44%
$INKP 1400~1120 = -20.00%
$TKIM 1376~905 = -34.23%
$BSIM 240~288 = 20.00%

12.MNC
$BHIT 340~291 = -14.41%
$BMTR 1900~1415 = -25.53%
$MNCN 2625~2375 = -9.52%
$MSKY 2000~1445 = -27.75%
$CMNP 3350~3130 = -6.57%
$KPIG 1310~1195 = -8.78%
$BCAP 1340~1010 = -24.63%
$BABP 120~87 = -27.50%
$IATA 81~86 = 6.17%

13.Emtek
$EMTK 5550~6000 = 8.11%
$SCMA 2625~3365 = 28.19%

14.Kalbe
$KLBF 1250~1775 = 42.00%
$EPMT 4000~2850 = -28.75%
$IGAR 295~324 = 9.83%

15.Merck
$MERK 189000~157000 = -16.93%
$SCPI SUSPEND

16.Taisho Farmasi
$SQBI 314000~315000 = 0.32%
$SQBB SUSPEND

17.Panin
$PNBN 660~1110 = 68.18%
$PNLF 195~293 = 50.26%
$PNIN 670~765 = 14.18%
$AMAG 198~239 = 20.71%
$PANS 4000~4995 = 24.88%
$CFIN 400~439 = 9.75%
$VRNA 92~82 = -10.87%

18.Mayapada
$MAYA 2750~1880 = -31.64%
$SRAJ 250~226 = -9.60%
$SONA 4800~4100 = -14.58%

19.Coutts&Co+Abn Amro+Barclay Bank
$ABDA 4000~6150 = 53.75%
$MREI 2675~5000 = 86.92%

20.Temasek
$BDMN 3775~4450 = 17.88%
$ADMF 8100~7300 = -9.88%

21.Victoria
$VICO 119~128 = 7.56%
$BVIC 125~121 = -3.20%

22.Trakindo
$HDFA 230~210 = -8.70%
$ABMM 3000~2575 = -14.17%

23.Rajawali
$BWPT 1106~402 = -63.65%
$SMMT 1686~1770 = 4.98%
$META 255~200 = -21.57%
$TAXI 1460~1225 = -16.10%
$RMBA 570~515 = -9.65%
$FORU 167~690 = 313.17%

24.Northstar
$BTPN 4300~4170 = -3.02%
$AMRT 450~500 = 11.11%
$MIDI 530~570 = 7.55%
$TRIO 1290~1140 = -11.63%
$GLOB 1250~1010 = -19.20%
$DOID 92~210 = 128.26%
$ESSA 2375~2920 = 22.95%
$MASA 390~415 = 6.41%

25.Agro Manunggal
$ASRI 430~580 = 34.88%
$BEST 445~730 = 64.04%

26.Modern
$MDLN 390~515 = 32.05%
$MDRN 770~620 = -19.48%

27.Jaya
$JRPT 800~1030 = 28.75%
$JKON 550~850 = 54.55%

28.Tristar
$GAMA 88~50 = -43.18%
$BACA 88~87 = -1.14%

29.Panorama
$PANR 390~500 = 28.21%
$PDES 136~184 = 35.29%
$WEHA 235~265 = 12.77%

30.Bakrie
$BUMI 300~70 = -76.67%
$BRAU 186~68 = -63.44%
$BORN 174~50 = -71.26%
$BRMS 199~299 = 50.25%
$DEWA 50~50 = 0.00%
$ENRG 70~105 = 50.00%
$ELTY 50~50 = 0.00%
$BTEL 50~50 = 0.00%
$BNBR 50~50 = 0.00%
$VIVA 275~495 = 80.00%
$MDIA 1380~2400 = 73.91%

31.Indika
$PTRO 1150~1000 = -13.04%
$INDY 590~535 = -9.32%
$MBSS 1010~1000 = -0.99%

32.Ancora
$APEX 2550~3100 = 21.57%
$OCAS 159~135 = -15.09%

33.Gajah Tunggal
$GJTL 1680~1335 = -20.54%
$MAPI 5500~5325 = -3.18%
$ADMG 220~169 = -23.18%
$KBLI 142~157 = 10.56%

34.Maspion
$ALIM 300~266 = -11.33%
$INAI 290~345 = 18.97%
$BMAS 285~340 = 19.30%

35.Barito Pacific
$BRPT 410~313 = -23.66%
$TPIA 2975~3000 = 0.84%

36.SIam Cement
$KIAS 155~144 = -7.10%
$KOIN 275~430 = 56.36%

37.Trisula
$TRIS 400~360 = -10.00%
$CINT 330~364 = 10.30%

38.NT-AM
$ARNA 820~920 = 12.20%
$CSAP 180~610 = 238.89%

39.Sekar
$SKBM 480~970 = 102.08%
$SKLT 180~250 = 38.89%

40.Pudjiaji
$PNSE 580~540 = -6.90%
$PUDP 480~431 = -10.21%

41.Artha Graha
$JIHD 1330~1120 = -15.79%
$SCBD 3340~1800 = -46.11%
$INPC 91~86 = -5.49%

42.Wisma Bina Surya
$BLTA SUSPEND
$BULL SUSPEND 



Oil price assumption set at US$60/barrel The government and the parliament have agreed on oil price of US$60/barrel for the 2015 revised budget. This is lower than US $105/barrel set under the 2015 budget. Consequently, the government is projected to receive 61.6% less revenue from oil & gas sect...

Read More at www.saham.ws/oil-price-assumption-set-at-us60barrel/ © Saham .WS
January 31, 2015 • Indo Oil price assumption set at US$60/barrel The government and the parliament have agreed on oil price of US$60/barrel for the 2015 revised budget. This is lower than US $105/barrel set under the 2015 budget. Consequently, the government is projected to receive 61.6% less re...

Read More at www.saham.ws/oil-price-assumption-set-at-us60barrel/ © Saham .WS

No comments:

Post a Comment