Monday, February 16, 2015

Anatomy of Market Crash

Market Crash di tahun 2013 ini memang mendebarkan. Hanya dalam 1 bulan semua aliran dana Asing selama tahun 2013 keluar, dan 2 bulan berikutnya IHSG menyentuh bottom (semoga) di 3967, turun 24% dari puncaknya di 5200. Bahkan lebih parah di level saham, banyak saham yang harganya sudah turun 50-60% dari harga puncaknya. Mendebarkan? Ya. Tapi apakah aneh hal ini terjadi? Data yang kami kumpulkan 10 tahun kebelakang berikut dapat memberi Anda perspektif yang berbeda.
Dalam 10 tahun kebelakang (2004-2013), data historis menunjukan bahwa IHSG mengalami 10x Market Crash yang terjadi pada 9 dari 10 tahun tersebut (kecuali tahun 2009). Dari yang minor (<15%) hingga major (>15%). Dari masa penurunan (harga peak ke bottom) yang pendek sekitar 20-30 hari hingga yang 300 hari. Dari masa recovery (harga bottom ke peak) yang hanya 47 hari sampai 182 hari.
Coba lihat tabel dibawah ini:
Statistik Market Crash IHSG
Statistik Market Crash IHSG

Peak adalah harga tertinggi sebelum IHSG mengalami koreksi dan Bottom adalah harga terendah IHSG sebelum harga kembali naik. Kemudian, kita dapat melihat Berapa hari yang dibutuhkan IHSG untuk jatuh ke titik terendah di masa Crash, dan berapa hari yang dibutuhkan IHSG untuk kembali ke harga sebelum Crash.
Misalnya pada kejadian Mei 2012, IHSG turun 13%, dari 4224 ke 3654. Penurunan ini terjadi selama 32 hari. Dan IHSG mebutuhkan 102 hari untuk kembali ke harga sebelum Crash, yaitu 4224.
Dari data ini, ada beberapa hal yang bisa kita lihat:
  1. Hampir setiap tahun terjadi Market Crash, dengan tingkat koreksi rata-rata 18% (tanpa tahun 2008).
  2. Biasanya dibutuhkan sekitar 31 hari (tanpa tahun 2008) untuk IHSG mencapai Bottom-nya, dari harga Peak-nya
  3. Masa recovery yang dibutuhkan IHSG untuk kembali ke harga sebelum Crash adalah sekitar 3-6 bulan (bahkan untuk tahun 2008), tergantung dari dalamnya tingkat koreksi yang terjadi.
Harga IHSG dari 2004-2013
Harga IHSG dari 2004-2013

Hampir setiap tahun terjadi Market Crash, ciri khas apa yang selalu muncul?

Selama 10 tahun terakhir, Market Crash terjadi karena penyebab yang
 berbeda-beda,
 baik dari pelakunya maupun jenis asetnya. Yang menarik adalah dari
 penelitian 50 tahun 
terakhir dari Market Crash yang terjadi di dunia, hanya 20% yang 
disebabkan oleh externa
l shock seperti bencana alam (misal badai Haiyan yang baru menyerang
 Filipina) atau 
serangan teroris (tragedi WTC 9/11), dan lainnya. Mayoritas dari
 Market Crash
 selalu disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.
Kami bisa menceritakan panjang lebar setiap kejadian berbeda
 yang menyebabkan  Market Crash, namun ada satu yang tidak pernah
 berubah, yaitu  sifat manusia yang dibelakangnya. Selalu ada karakteristik 
yang jelas, yang menjadi  penyebab setiap  Market Bubble atau Crash,
 yaitu Greed & Fear, keserakahan  dan ketakutan.
Karakter ini yang selalu menyebabkan Investor menjadi irrational dan 
over-reactive 
. Karena itu, kita hampir tidak pernah melihat sebuah Saham atau Indeks
 berhenti pada nilai wajarnya. Seperti pendulum, harga selalu menjadi over-valued
(saat Pasar begitu bullish dan mayoritas orang menjadi serakah) atau 
under-valued (saat market bearish dan mayoritas orang begitu takut).
Psikologi Investor menghadapi Market Crash
Psikologi Investor menghadapi Market Crash


Manusia, atau dalam hal ini, Investor, memiliki perilaku umum yang dinamakan “herding behaviour”. Perilaku yang membuat individu cenderung bergerak atau bertindak sesuai dengan yang mayoritas lakukan. Saat kondisi Pasar bullish, Pasar memasuki fase Euphoria. Kita akan mendapati semua media, berita, maupun analis, akan menceritakan segala alasan dan justifikasi yang meyakinkan kita untuk terus beli. Sifat Greed (serakah) muncul dimana-mana, mendorong Investor menggunakan leverage (margin), berani membeli di harga tinggi dengan harapan dapat menjual di harga yang lebih tinggi lagi.
Hal ini dapat berlanjut hingga di suatu tahap, tidak ada lagi yang mau membeli, dan harga mulai turun. Mayoritas Investor masih optimis, berita dan media masih mengatakan hal yang positif. Pasar mulai memasuki fase Denial and Hope. Biasanya kita akan mendengar kalimat: “Ini hanya sementara” atau “Koreksi ini kesempatan untuk membeli” atau “Saya akan jual kalau harganya sudah kembali keatas”. Parahnya lagi, ada sekelompok Investor pemberani (atau nekat) yang makin menggunakan leverage untuk menambah posisi.
Setelah harga makin turun. Rasa Fear (takut) mulai menghampiri para Investor yang masih memiliki posisi.  Banyak media, berita, analis mulai balik arah dan menceritakan bermacam teori, analisa yang menjustifikasi kenapa Pasar harus terkoreksi. Pasar mulai masuk ke fase Fear and Panic.
Dan sayangnya, manusia punya kencenderungan untuk merasakan rasa sakit atas kerugian dua kali lebih lipat lebih banyak, daripada saat mendapatkan keuntungan. Sehingga akhirnya, posisi dijual di harga apapun yang ada di Pasar, takut untuk kehilangan lebih dalam lagi. Kondisi Pasar yang tidak kondusif dan tidak likuid, di tambah serangan panik jual (panic selling) dari banyak Investor, menjadi bahan dasar dari Market Crash yang sempurna.
Emosi dari Trader/Speculator menyebabkan mereka Buy High and Sell Low
Emosi dari Trader/Speculator menyebabkan mereka Buy High and Sell Low

Be Fearful When Others Are Greedy and Greedy When Others Are Fearful

Warren Buffet hanya punya 2 prinsip dalam mengelola dananya. Yang pertama, Never lose money. Yang kedua, Never forget rule no.1. Karena itu, bisa disimpulkan bahwa strategi utama dalam berinvestasi di Pasar Modal adalah Hindari Market Crash!
Kalau kita menginvetasikan uang 100rb pada IHSG pada 10 tahun yang lalu (1 Jan 2004), kita biarkan saja tidak ditambah/dikurangi. Maka pada akhir 2013 uang kita sudah menjadi 607rb (atau kenaikan 507%). Return yang cukup baik bukan?
Tapi apabila kita dapat menghindari Market Crash tahun 2008 saja misalnya. Tahukah Anda berapa return yang Anda dapatkan dari IHSG di akhir tahun 2013? Uang 100rb tadi akan berlipat menjadi 1.6jt (atau kenaikan 1445%)! Itu sama dengan 2.5x lebih banyak dari yang kita dapatkan dengan buy-hold saja.
Memang, kami 99.99% yakin tidak ada yang dapat menebak timing Pasar dengan akurasi sempurna, tapi bukti diatas dapat memberikan gambaran bahwa menghindari Market Crash adalah sama pentingnya dengan memilih Saham yang tepat. Saat Pasar dilanda rasa takut, saham bagus pun tetap akan terkoreksi, saham murah dapat makin murah lagi. Karena itu, penting bagi Investor untuk selalu update dengan informasi obyektif yang mempengaruhi investasinya. Update mengenai kondisi global, ekonomi Indonesia, sentimen pasar, dan saham yang tepat akan menjadi senjata utama Anda untuk mencari Alpha (keuntungan diatas rata-rata).

http://www.indoalpha.com/anatomy-market-crashes/#more-195

No comments:

Post a Comment