Tuesday, September 23, 2014

Kampung Gempol Sejarah dan Curahan Hati

Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika rumah di mana sekarang saya berdiam yang nyaman dan tentram, berada tak jauh, Gedung Sate yang megah ternyata dahulu adalah sebuah perkampungan penduduk yang sarat sejarah, komplek perumahan tua dulu bernama kampung Gempol. Kampung Gempol sendiri adalah nama suatu kawasan pemukiman penduduk yang terletak di antara gedung Sate dan dipisahkan oleh jalan Banda Bandung.

Gambar asli Gapura pintu masuk kampung gempol pada tahun 30an
Rumah Gempol Saya  yang masih tersisa dan saya Pugar (Heritage)

Pada zaman Belanda, dahulu kawasan ini bernama “Kleinwoningbouw Gempol” dan merupakan komplek perumahan para pribumi yang bekerja sebagai pegawai rendahan di gedung Sate. Survey akan memperlihatkan jika kawasan ini memang termasuk kawasan sisa peninggalan kolonial, ini bisa terlihat dari bentuk rumahnya yang khas bangunan jaman “baheula” termasuk rumah yang kami pugar. Dominasi tiang kayu jati yang setahun lagi akan berumur 100 tahun pada tiang tiang masih kokoh tidak keropos. Pemasangan dinding rumah jaman dulu ini menggunakan sistem knock down, dengan rangka bambu. Dikatakan arsitektur rumah ini bergaya kampung sunda china. Tukangnya juga banyak yang berasal dari negeri tirai bambu.


Sejak dahulu, di Kampung Gempol ini mayoritas rumahnya terbuat dari kayu jati, hal ini mungkin karena memang perumahan ini sengaja dikhususkan oleh Belanda bagi kaum pribumi saja agar terlihat mungil dan sederhana. Kamar kamar rumah juga berukuran kecil, sekitar 2 x 3 m2. Namun sayangnya sekarang bangunan asli pemukiman ini hanya tinggal menyisakan kurang lebih 7-10 rumah saja dari semestinya tidak kurang dari 50 rumah, termasuk rumah yang saya diami sekarang.

 Rumah kayu yang sudah tidak digunakan

Sewaktu saya bersama teman mencari sejarah Kampung Gempol, sampailah kami kepada seorang Om penjual Gas/Aqua Gallon, saya sempat melihat bentuk asli dari  gerbang masuk komplek Gempol ini pada tahun 30 an melalui sebuah foto yang terpajang di dinding rumah milik salah satu warga. Ia pun menceritakan jika gerbang yang asli ini hancur ketika Jepang mulai masuk ke Bandung. Gerbang itu hanya  5 meter dari rumah Om tersebut.

Menjadi menarik jika kita mencermati bentuk rumah di sekitar kawasan Gempol ini, yaitu bentuk rumahnya yang memanjang berderet dan kemudian di potong menjadi beberapa bagian rumah dan dihuni oleh beberapa keluarga serta masih dalam satu atap yang sama. Namun, sayangnya sekarang beberapa bangunan deret ini tampak kurang asli lagi tampilannya karena ada rumah yang berpenampilan ala rumah modern di sebelahnya.
Asal usul pemberian nama “Gempol” sendiri, konon di ambil dari salah satu nama daun yang mungkin merujuk dahulunya di kawasan ini banyak sekali pohon gempol itu.

Sisa branghang yang sudah tidak dipakai dan ditutup
Pada masa lalu perumahan di kawasan gempol ini memiliki saluran pembuangan air yang sangat tertata rapih atau dikenal dengan nama Brandgang, (baca:branghaang) dahulu di tengah – tengah komplek perumahan Gempol ini ada sebuah Plein atau taman yang memang sengaja di buat oleh Belanda sebagai ruang terbuka hijau kini taman tersebut sudah dialih fungsikan sebagai rumah pemukiman yang padat.
Gang sebelah rumah saya yang kini menghubungkan kampung Gempol dengan jalan raya dekat Gedung Sate
Selain itu dikawasan Gempol ini ada sebuah warung roti bakar yang sangat terkenal di Bandung, yaitu Roti Gempol di Jalan Gempol Wetan No.14 dan Kupat Tahu Gempol. Roti Gempol ini sudah berdiri sejak tahun 1958.  Toko roti ini memiliki keunikan tersendiri karena semua produk adalah home made, dan bervariasi.  Variasi rotinya dari roti putih biasa, gandum, roti tawar special bertabur oatmeal, roti bakar.  Harga yang ditawarkan cukup terjangkau dan tempatnya pun layak untuk dijadikan “tongkrongan”. Konon kedua tempat ini pernah masuk sebuah acara program televisi Bondan Winarno dengan wisata jajanan kulinernya.
Itulah mungkin sekilas tentang Kampung Gempol saya, salah satu bentuk sisa sejarah di kota Bandung tercinta ini yang masih bertahan melawan gerusan zaman. Sejatinya letak kota bukanlah hanya masalah urusan letak geografis saja tapi jauh dari hal itu melibatkan unsur2 seperti cinta, air mata dan romantisme di dalamnya.

Letak strategis Kampung Gempol (Posisi Rumah untuk Trading) :
1. Gedung Sate "kalo mau jumpa Gubernur dan Naga Bonarnya" : 150 m
2. Museum Geologi Bandung "kalo mau lihat nenek moyang dan Dinosurusnya" : 400 m
3. Gedung DPRD Jawa Barat "kalo mau demo indeks crash"  : 50 m
4. Hotel Pullman Gedung Sate dan Bandung International Convention Centre "kalo mau hadiri seminar atau jumpa tamu" 150 m
5. Gasibu "kalo mau lari lari dan upacara 17 agustusan dan lain lain : 200 m
6. BPK Siagiaan Bandung "kalo rindu makanan khas batak" : 500 m
7. Kantor Pusat TLKM Indonesia "kalo mau yakinkan diri jadi shareholder" : 400 m
8. Kantor Pusat PT Pos Indonesia "kalo mau filatelis atau pos posan" : 350 m
9. Taman Lansia "Kalo mau Jojing serasa di hutan yang seger" : 350 m
10. Restoran Sambhara "kalo mau makanan khas sunda yang enak" : 50 m
11. Zuki Zuki "kalo mau makan celup celup hangat panas saat dingin" : 65 m
12. Tea House "mau jumpa relasi dan kongkow kongkow" : 70 m
13. Bancakan "mau makanan Sunda Gaul sambil lesehan" : 100 m
14 Sari Rasa " mau makan segala macam Jajanan Pasar Khas Indonesia" 300 m
15 Total Buah "mau makan buah spesifik segala ada" : 400 m
16. BCA Kacab Gedung Sate "mau urusan duit-duitan" : 200 m
17. Restoran Nyonya Rumah, Sari Sunda, Restoran Jepang Midori, Pijat Shiatsu, Kupat Tahu, Sate Gempol, Nasi Padang, Nasi Goreng, Aneka Toko Roti, dan lain lain banyak lagi jejeran yang jaraknya kurang dari 500 meter.

Jadi walau tidak kaya kaya amat, sebagai tukang kebun yang dimana dulu kawanan monyet sehari hari menjadi teman saya di sumatera, sekarang sudah hilang berganti dengan kawanan kawanan pencari nikmat kuliner. Tapi saya tidak akan lupakan dan damainya di kampung kebun saya yang orangnya bersahaja dan dunia terasa luas. Luas di sungai yang jernih, di kebun kebun buah nenek moyang, diperbukitan bukit barisan, di mana babi hutan menjadi warga sekebun berikut turunan berbagai jenis monyet yang ada.

Saya masih rindu untuk teriak teriak terhadap monyet sedari monyet Kia Kia hitam berekor panjang yang nakal memakan tanaman munggil saya hingga Monyet Lampung yang terkenal sangat kurang ajar, menjatuhkan durian durian saya dan bukan hanya mencuri pisang tetapi juga memakan pohon pisangnya.

Sejatinya untuk tiap tiap ukuran kehidupan manusia, kita patut bersyukur bukan hanya didalam pemikiran tetapi dalam tiap tiap waktu perenungan. Perenungan jaman kanak kanak dari bermain di lelumpuran sawah dan ladang, duit cekak tapi banyak acara hingga jaman kuliah, ada duit cukup acara pacaran sering disia siakan, hingga jaman sekarang duit lebih dari cukup, tapi acara makin sedikit...hehehe....

Smoga nama dan rupa ini dapat menjalani hidup lebih baik lagi...
Sabbe Satta Bhavanthu Sukhitata..Sabbe Sangkhara Annicca.....Sadhu sadhu sadhu

No comments:

Post a Comment