Monday, May 26, 2014

Teknik Teknikal Analisis yang Terbaik


Ada satu pertanyaan yang sangat menarik,
“Pak, apa teknik TA yang terbaik ?? ”
Mengenai pertanyaan di atas, Pertanyaan ini sebenarnya cukup sulit dan sangat berbobot.  Saya merenung sesaat untuk bisa memberikan jawaban yang tepat. Kenapa suatu harga saham bergerak tidak seperti yang kita harapkan, atau mungkin juga “indikator TA nya sudah positif, tapi kok malah turun”. Ini sering terjadi dan hingga saat ini juga masih menjadi misteri bagi saya. apakah indikator TA yang dipakai salah, atau apa yang salah ???

Sering terjadi kesalahpahaman bahwa TA membuat harga bergerak. Kadang pelaku pasar salah mengerti dengan TA, dan ber-anggapan bahwa harga akan bergerak naik karena MACD Golden Cross (misalnya). Hal ini menurut saya adalah suatu kesalah pahaman, dan menurut saya malahan sebaliknya, seharusnya, karena harga sudah bergerak naik, makanya MACD bisa golden cross. Dalam beberapa kasus, ketika harga turun terus, dan tiba – tiba sideway, MACD juga bisa golden cross. Karena MACD bertujuan untukl mendeteksi perubahan trend saat ini. Dan setelah melewati sideway ada kalanya harga bergerak naik, jebol resisten dan menguat signifikan, namun terkadang juga malah turun jebol support dan turun dalam.

TA pada dasarnya menggunakan data harga saham di masa lampau untuk menentukan trend yang sedang berlangsung saat ini.  Karena yang ditentukan adalah trend saat ini, maka TA tidak dapat menentukan trend apa yang akan berlangsung di masa depan. Dan setiap saat trend yang sedang berlangsung saat ini bisa saja mengalami perubahan. Tidak ada yang tau kapan suatu saham  , baik yang uptrend maupun downtrend akan mengalami perubahan trend baik ke arah pembalikan maupun menuju ke konsolidasi. tidak ada yang tau.
Karena TA tidak dapat memprediksi masa depan, Sehingga fleksibilitas pengguna TA sangat diperlukan. Baik ketika beli kemudian ternyata harga turun, berarti harus Cut Loss untuk mengamankan modal. Dan setelah anda jual, (cut loss) ternyata harga kembali naik, maka tindakan buyback juga diperlukan. Ketika anda sudah jual dan take profit, harga ternyata naik terus, tindakan buyback juga diperlukan.

Karena ketika harga turun, tidak ada yang tau akan turun hingga berapa, walau dengan teknik TA bisa diraba – raba akan ke berapa dengan melihat low sebelumnya, namun  tidak ada yang bisa memastika bahwa di posisi tersebut harga akan rebound, bisa saja jebol lagi ke bawah, sehingga tidak ada yang tau ketika harga saham turun, akan turun sampai berapa, kita taunya setelah kejadian. Dan juga sama saja, waktu harga saham naik juga, tidak ada yang bisa menebak bakal naik hingga berapa. Ada saham yang naik dari 50 hingga 4600, ada yang naik dari 100 hingga 9000 dalam setahun ada yang naik dari 400 hingga 5000 dalam 6 bulan.

Dari beberapa kejadian, ada beberapa hal yang saya pelajari
1. Ketika saya udah beli dan ternyata turun, langsung CL maksimal 10% modal, pernah kemudian harga turun lagi hingga akhirnya turun 50% di bawah harga CL saya, pernah juga setelah CL malah naik
2. Ketika saya sudah jual (Take profit) harga ternyata naik terus, pernah hingga naik 100% dari harga take profit saya. Dari sini saya belajar untuk berani buyback di harga lebih tinggi karena saya tidak tau, bakal dibawa ke berapa kenaikan harga saham tersebut.

Lanjut mengenai indikator TA yang paling powerfull,
Benernya sebelum menggunakan TA kita harus memahami diri kita sendiri dan kondisi pribadi. Tidak semua indikator bisa digunakan oleh semua orang. Ada indikator yang memang untuk jangka pendek, bagi pelaku pasar yang sangat sibuk dan tidan punya waktu yang banyak untuk melihat pergerakan harga saham, sebaiknya tidak menggunakan indikator ini. Misal indikator break out pada saham gorengan. Bagi pelaku pasar yang sering bepergian ke luar negeri, ada baiknya tidak menggunakannya, sebab pada saham gorengan harga bergerak sangat cepat. Walau bisa cuan namun jika tidak diamati, cuannya bisa berubah jadi loss.
Sementara bagi trader yang lebih cenderung ingin bergerak dengan kecepatan tinggi, menggunakan indikator break out pada saham blue chip seringkali sangat menjemukan karena cenderung saham blue chip dan bum bergerak lamban dan serinig kali setelah break out ada masa konsolidasi yang cukup panjang. Bagi yang tidak tahan akan  keluar sebelum saatnya, alhasil sama juga tidak bisa menikmati cuannya.
Sehingga sebelum menggunakan indikator TA, kita harus memahami karakteristik indikator TA tersebut, terlebih lagi memahami diri kita sendiri
Sumber : Robert Hendrik

No comments:

Post a Comment