Tuesday, December 3, 2013

Outlook Bursa Efek Indonesia 2014


Sebelum membahas tentang berbagai proyeksi di tahun 2014, kita lihat dulu kondisi di tahun 2013. TAhun 2013 bagi Amerika adalah tahun pemulihan dimana berbagai indikator ekonomi amerika menunjukan pebrikan, mulai dari data tenaga kerja yang membaik . Di satu sisi hal ini akan menopang perekonomian dunia, namun di sisi lain, stimulus yang selama ini diberikan oleh The Fed pun terancam ditarik. Sehingga dalam jangka pendek terjadi goncangan dalam pasar keuangan terutama di pasar emerging market (salah satunya Indonesia) yang dipicu oleh ekspektasi penar8=ghjikan stimulus.
Namun pada kenyataannya stimulus tidak akan ditarik langsung sepenuuhnya namun yang ada adalah pengurangan stiulus secara bertahap, dan saya rasa yang terjadi saat ini adalah kepanikan pasar dalam jangka pendek.
Saya perhatikan di tahun 2013, saham perbankan , property dan konstruksi adalah sektor yang turun paling dalam. Untuk perbankan, beberapa emiten bahkan sudah berada jauh di bawah harga wajarnya. Sementara kondisi fundamental perbankan sendiri hingga Q3 2013, saya amati masih dalam kondisi yang sangat baik. Resiko memegang saham perbankan tetap ada, namun dalam posisi harga yang murah seperti saat ini, saya rasa resikonya sudah tercover.
Sehingga untuk tahun 2014, saya rasa saham perbankan berpotensi untuk pulih dari keterpurukan. Sementara untuk konstruksi dan property, menurut saya masih dihargai dengan valuasi yang cukup mahal, serta situasi terakhir, sudah ada emiten konstruksi yang merevisi target akhir tahun menjadi lebih rendah  dari sebelumnya. Ini menandakan adanya signal bahaya yang signifikan bagi emiten kontruksi. Perlu diingat emiten konstruksi menggunakan banyak hutang untuk membiayai proyeknya , sehingga kenaikan suku bunga akan sangat berdampak pada laba emiten di sektor ini. Apalalagi tidak sedikit emiten yang berhutang dalam mata uang US Dollar sehingga penguatan US Dollar dari 9500 di awal tahun menjadi 11.700 saat ini sangat memukul emiten sektor ini.
Di sisi lain, sebenarnya penguatan US Dollar sangat menguntungkan bagi emiten sektor Komoditas, dimana pemasukan dari sektor komoditas dihargai dalam US Dollar, sehingga valuasi emiten komoditas pun meningkat seiring dengan penguatan US Dollar. Sehingga bisa kita lihat bulan mei – november 2013 IHSG Jatuh, namun emiten sektor komdoitas adalah emiten yang paling bertahan.  Apalagi ditunjang dengan naiknya harga komoditas itu sendiri dalam USD.

Sumber: Robert Hendrik

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete