Monday, September 16, 2013

Memaafkan Diri Sendiri

Sebagai trader atau investor, kita pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada seseorang yang selalu benar dalam memilih saham. Bahkan seorang profesional di dalam industri keuangan pun melakukan kesalahan. Bahkan seorang Warren Buffett juga melakukan kesalahan dalam investasi. Apa yang harus kita lakukan bila kita melakukan kesalahan dalam investasi atau trading? Jawabannya adalah: Memaafkan diri sendiri. Hanya memaafkan diri sendiri bisa jadi jauh lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Simak artikel ini selengkapnya


DAMPAK KESALAHAN DALAM TRADING ATAU INVESTASI Saya jamin kita pasti sering melakukan kesalahan dalam investasi atau trading. Misalnya salah membeli saham, serakah sehingga kejeblos di harga tinggi, terlalu takut untuk masuk sehingga peluang hilang atau lupa cut loss. Semua kesalahan tersebut akan memberi dampak pada keuangan kita, modal menyusut, menjadi nyangkut dan portofolio memerah karena merugi.
Sebenarnya tidak hanya secara keuangan, dampaknya bisa lebih fatal lagi. Yaitu menyerang psikologis kita. Yang paling sering terjadi ada dua kondisi psikologis yang bisa menimpa trader yang baru melakukan kesalahan.
Yang pertama, tidak terima pada kesalahan tersebut dan menimpakan kesalahan pada market. Karena market begini, saya jadi rugi. Atau marketnya sedang susah, sehingga selalu rugi. Market tidak adil, dan sebagainya. Efeknya adalah tidak terima, penyangkalan, dendam pada pasar. Hal ini bisa berbahaya, karena biasanya kita terbakar amarah dan mencoba masuk kembali ke pasar dengan lebih agresif. Karena tidak berhati-hati, biasanya yang terjadi adalah rugi lebih besar lagi.
Kondisi kedua yang terjadi adalah investor atau trader menyalahkan diri sendiri secara berlebihan . Ia merasa bodoh, karena melakukan kesalahan tersebut. Efeknya ia mengalami penyesalan, terpuruk, dan kepercayaan dirinya runtuh. Akibatnya kemungkinan ia tidak berani lagi mengambil keputusan. Selalu ragu-ragu dalam bertindak.

MEMAAFKAN DIRI SENDIRI UNTUK MAJU KE DEPAN
Kedua kondisi di atas sama buruknya. Yang harus kita lakukan adalah memaafkan diri sendiri, karena Anda tidak bisa menyalahkan pasar. Satu hal yang harus Anda lakukan pertama kali adalah menerima diri sendiri apa adanya. Kita semua manuasia, punya emosi, punya ketakutan, punya keserakahan. Bagian terberat adalah menerima bahwa Anda memiliki seperti marah, takut, serakah, dendam, dan kerentanan.
Setelah menerima bahwa kita adalah manusia yang rapuh, selanjutnya kita perlu memaafkan diri sendiri bila melakukan kesalahan-kesalahan tersebut. Jika kita tidak memaafkan diri sendiri, Anda membawa rasa bersalah yang telah terjadi di masa lalu. Beban negatif ini terus terbawa dan meresap ke alam bawah sadar. Hidup dalam keadaan tidak mampu memaafkan membutuhkan banyak energi. Anda terus-menerus dikunyah oleh kerentanan. Mengampuni diri sendiri adalah tindakan penting bergerak maju dan melepaskan diri dari masa lalu.
Memaafkan diri sendiri tidak berarti bahwa Anda mengabaikan kesalahan atau berhenti berusaha untuk memperbaikinya.Beberapa investor atau trader enggan untuk memaafkan diri mereka sendiri karena mereka takut mereka akan terus mengulangi kesalahan. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Dengan memarahi dan meremehkan diri sendiri, Anda lebih cenderung untuk mengulangi kesalahan.
Tidak ada yang sempurna, setiap orang membuat kesalahan. Yang paling penting adalah bahwa Anda belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut. Tidak ada investor atau trader yang sempurna di luar sana. Bahkan investor atau trader profesional mengalamai kerugian dari dari waktu ke waktu.Jangan buang waktu Anda dengan tidak memaafkan diri sendiri. Semakin cepat melakukannya, Anda akan semakin cepat berkembang sebagai investor atau trader yang lebih baik lagi

Berbicara tentang kesalahan, saya teringat pada salah satu cerita dari buku yang ditulis oleh Ajahn Brahm. Beliau bernama asli Peter Betts, awalnya adalah seorang fisikawan sebelum menjadi pendeta Buddha. Cerita ini dikutip dari buku Ajahn Brahm: Opening the Door of Your Heart: And Other Buddhist Tales of Happiness. Di Indonesia diterjemahkan dengan judul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.
Diceritakan saat belajar di Thailand, Ajahn Brahm dan para pendeta Buddha lainnya membeli tanah untuk dijadikan vihara pada tahun 1983. Karena tidak mampu membayar tukang bangunan, mereka menbangun sendiri vihara tersebut. Jadi ia belajar cara bertukang, bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen dan memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa-pipa, dan lain sebagainya.
Ajahn Brahm adalah seorang fisikawan teori dan guru SMA sebelum jadi biksu, sehingga tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, ia menjadi cukup terampil bertukang, bahkan ia menjuluki timnya “BBC (Buddhust Building Company)”. Tetapi pada saat memulainya ternyata bertukang itu sangatlah sulit.

Kelihatannya gampang, membuat tembok dengan batu bata tinggal menuang seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Sebagai seorang biksu, ia memiliki kesabaran. Ia memastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya ia berhasil menyelesaikan tembok batu batanya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karyanya tersebut.
Saat itulah ia baru melihatnya. Ia telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua batu bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok.
Saat itu, semennya sudah terlanjur terlalu keras untuk mencabut dua batu bata itu.
Jadi ia bertanya kepada kepala vihara apakah boleh membongkar tembok itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu meledakkannya sekalian. Ia telah membuat kesalahan dan menjadi gundah
gulana. Kepala vihara bilang tak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu. Jadilah temboknya tetap seperti itu, dengan 2 buah bata yang jelek masih di sana.

Ketika Ajahn Brahm membawa tamu untuk berkunjung keliling vihara yang baru setengah jadi, ia selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok bata yang ia buat. Ia tak suka jika ada orang yang melihatnya.
Lalu suatu hari, kira-kira 3-4 bulan setelah ia membangun tembok itu, ia
berjalan dengan seorang pengunjung. Kemudian pengunjung itu berkomentar dengan santainya, “Itu tembok yang indah.”

“Pak”, Ajahn Brahm menjawab dengan terkejut, “Apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu ?”

Apa yang pengunjung itu katakan selanjutnya akan mengubah keseluruhan pandangan Ajahn Brahm terhadap tembok itu, berkenaan dengan dirinya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Pengunjung itu berkata, “Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus.”

Kita kebanyakan terlalu terfokus pada kesalahan yang kita lakukan dan terbutakan dari hal-hal lainnya. Banyak investor atau trader menjadi menyerah karena melihat kesalahannya sebagai dua bata jelek. Pada kenyataannya ada jauh lebih banyak batu bata yang bagus, diatas, dibawah, di kiri dan di kanan batu bata yang jelek.

Namum pada saat itu kita tak mampu melihatnya. Malahan setiap kali melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita perbuat.
Kita semua memiliki “dua bata jelek”, namun batu yang baik di dalam diri kita masing-masing jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita melihatnya semua akan tampak tak terlalu buruk lagi. Selanjutnya kita akan bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita.
Forgive yourself,
for your faults and your mistakes,
then MOVE ON!

1 comment:

  1. sebagai trader memang mungkin saja kita bersikap salah dan harus memaafkan diri sendri agar bisa nyaman memperbaikinya. hal ini juga dilakukan di octafx dengan upaya melakukan evaluasi dengan baik dan juga rutin

    ReplyDelete