Wednesday, August 10, 2011

Revisi Target IHSG


Minggu lalu, Pemerintah Amerika Serikat (AS) berhasil meredam ketakutan dunia terhadap kemungkinan terjadinya resesi global, dengan memperpanjang masa jatuh tempo utangnya yang senilai US$ 14.3 trilyun hingga 10 tahun kedepan. Sayang, ceritanya ternyata tidak selesai sampai disitu. Lembaga pemeringkat terkemuka di dunia, Standard & Poor’s (S&P), menurunkan rating utang AS, dari AAA menjadi AA+. Intinya, S&P menganggap bahwa Pemerintah AS pada saat ini, tidak lagi cukup mampu untuk membayar hutang-hutangnya.

S&P merilis laporannya pada tanggal 5 Agustus 2011 waktu AS (ketika itu di Indonesia masih tanggal 4 Agustus). Tanpa perlu menebak, pasar modal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, langsung berjatuhan. Pada tanggal 4 Agustus, IHSG anjlok dari 4,122 ke 3,921, dan terus terperosok hingga posisi saat ini, yaitu 3,735. Dihitung dari posisi puncaknya, IHSG telah melemah 10.5%. Meski kelihatannya buruk, namun dalam enam bulan terakhir IHSG terhitung masih menguat 12.7%. Bandingkan dengan KLCI Malaysia (turun 2.5%), Nikkei Jepang (turun 14.3%), atau Hangseng Hongkong (turun 11.5%). Dow Jones sendiri kalau dihitung sejak enam bulan terakhir sudah turun 11.7%. Jadi kondisi pasar modal kita, percaya atau tidak, masih jauh lebih baik dibanding yang lain.


Akhir tahun 2010, penulis pernah mengatakan bahwa IHSG mungkin akan mencapai posisi 4,500 di akhir tahun 2011, dengan catatan market dan perekonomian berjalan dengan normal, dan tidak terjadi peristiwa penting yang memiliki pengaruh global. Namun sepertinya terlalu naif kalau kita mengharapkan bahwa kondisi ekonomi, baik ekonomi dunia maupun Indonesia, akan berjalan dengan mulus-mulus saja. Setiap tahunnya, hampir pasti akan terjadi minimal satu peristiwa besar yang bisa menghambat kenaikan harga saham ataupun perekonomian, dan itu bisa terjadi kapan saja. Faktanya, sepanjang tahun 2011 hingga ketika artikel ini ditulis, dunia memang sudah dilanda oleh ‘peristiwa penting’ seperti itu hingga beberapa kali.

Peristiwa pertama adalah tsunami Jepang, yang terjadi tanggal 11 Maret 2011, yang diikuti oleh krisis nuklir. Pasca tsunami, Nikkei sempat anjlok hingga hampir 20% hanya dalam beberapa hari. IHSG mau tidak mau ikut terpengaruh, dan turun dari posisi 3,599 ke 3,484. Padahal ketika itu IHSG baru saja mulai pulih dari koreksi yang terjadi sepanjang Januari – Februari 2011, yang disebabkan oleh keluarnya aliran hot money, yang meracuni bursa sejak September 2010 (mungkin anda tidak setuju dengan kata ‘meracuni’, tapi bagi penulis, kenaikan IHSG yang terlalu cepat adalah sama jeleknya dengan penurunan IHSG secara tiba-tiba, karena dua-duanya sama-sama menguras emosi).

Peristiwa kedua adalah ketakutan pasar global terhadap krisis utang Eropa. Krisis yang terjadi di Yunani sejak tahun 2010 lalu ternyata belum benar-benar selesai, malah mulai menjalar ke Portugal, Spanyol, Italia, Irlandia, Belgia, Inggris, hingga Islandia. Satu-satunya negara di Eropa yang tampak aman dari krisis tersebut hanyalah Jerman. Ribut-ribut soal krisis utang Eropa ini memenuhi media sejak awal Mei hingga minggu ketiga Juni, dan ketika itulah IHSG tertahan di posisi 3,700 – 3,800, dimana IHSG tidak turun, tapi juga tidak naik.

Awal Juli, cerita soal krisis Eropa mendadak menghilang. Diiringi dengan optimisme tinggi terhadap kinerja para emiten pada kuartal II 2011, IHSG meresponnya dengan terus saja naik dari 3,700-an, hingga hampir saja menembus level psikologis baru yaitu 4,200. Namun dunia mendadak dikagetkan peristiwa penting berikutnya yaitu kabar dari AS, yang menyebutkan bahwa utang AS ternyata sama buruknya dengan utang Eropa, atau bahkan lebih buruk, dan berpotensi menghasilkan krisis yang luar biasa besar seandainya mereka benar-benar mengalami default. Setelah S&P mengeluarkan laporan tentang rating downgrade, bursa-bursa saham global pun jatuh, diikuti oleh IHSG. Namun mengingat IHSG sudah naik banyak sebelumnya, maka kurang tepat jika IHSG dikatakan telah jatuh, melainkan hanya kembali ke posisinya semula, yaitu 3,700-an. Hanya memang, penurunnya terlalu cepat dan terlalu tiba-tiba.

Kita tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan cerita soal utang AS ini. Tapi yang jelas untuk saat ini, target IHSG 4,500 di akhir tahun 2011 sepertinya cukup sulit untuk dicapai. Masalahnya begini: setelah utang Eropa, kemudian utang AS, siapa yang berani menjamin bahwa tidak akan cerita lanjutannya yaitu Utang Asia? Faktanya Indonesia sendiri memiliki utang cukup besar, yaitu Rp1,700 trilyun, atau mungkin lebih (ada yang bilang Rp1,900 trilyun). Penulis belum mengecek bagaimana posisi utang negara-negara lainnya di Asia, tapi sepertinya hampir semua negara memiliki utang yang cukup besar, entah kepada siapa.

Sebetulnya ketika IHSG terus saja naik hingga menembus 4,100, sebagian investor mulai khawatir kalau-kalau kenaikan IHSG sudah mulai overheated (anda mungkin termasuk salah satu dari investor tersebut). Salah seorang pembaca blog ini bahkan sudah berkali-kali mengingatkan akan resiko overheated tersebut, melalui komentar-komentarnya. Alasannya sederhana: Meskipun kondisi ekonomi dalam negeri masih baik-baik saja, dan rata-rata PER ketika IHSG diatas 4,100 masih cukup wajar yaitu 12 kali, namun tidak pernah ada kabar bahwa krisis utang di Eropa telah benar-benar berakhir. Dan itu menyebabkan kenaikan IHSG tersebut menjadi tidak rasional, karena berlawanan dengan pergerakan bursa global (dalam sebulan terakhir, di Asia cuma IHSG yang terus menguat naik). Yup, berita-berita soal krisis Utang Eropa memang mereda pada awal Juli, namun tidak pernah ada kabar yang dengan secara tegas mengatakan bahwa krisis utang tersebut telah berakhir. It means, berita soal krisis Eropa tersebut bisa muncul kembali sewaktu-waktu. Eh, belakangan yang muncul bukan Eropa, tapi malah lebih buruk yaitu AS.

Mengutip kata-kata dari Warren Buffett, ‘Gunakan saja dana yang ada untuk berinvestasi, itupun jangan digunakan seluruhnya.’ Nasihat tersebut biasanya terdengar tidak penting ketika kondisi market sedang bullish, namun baru akan terasa manfaatnya ketika market sedang dalam kondisi berkabung seperti sekarang ini.

But honestly, penulis sendiri tidak pernah mengira kalau S&P akan menurunkan rating AS, hanya beberapa hari setelah Pemerintah AS menyelesaikan negosiasi utangnya. Sebab sebagai lembaga pemeringkat asal AS, S&P sangat jarang menjelek-jelekkan negaranya sendiri. Kondisi market pada saat ini mungkin akan sangat berbeda seandainya S&P nggak ngomong apa-apa. But anyway, itu sudah terjadi, dan kita tidak bisa mengubahnya. Jadi kira-kira untuk saat ini, berapa target IHSG yang lebih realistis? Well, dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa cerita soal utang, utang, dan utang ini tidak akan selesai dalam waktu dekat, maka jika IHSG bisa menyentuh 4,300 pada akhir tahun 2011, itu sudah cukup bagus.

Kabar baiknya, saham-saham yang bagus secara fundamental tidak terlalu terseret oleh pelemahan IHSG, kecuali hanya sedikit. Tunas Baru Lampung (TBLA) contohnya. Berkat kinerjanya yang melejit pada kuartal I 2011 lalu, sahamnya dalam empat bulan terakhir telah mencetak gain 57.1%, dan itu sudah termasuk memperhitungkan penurunan drastis yang terjadi dalam seminggu terakhir, yaitu dari posisi 780 ke posisi 630. Tanpa penurunan tersebut, TBLA seharusnya mencetak gain sekitar 80%. Itu berarti, jika anda sejak awal telah memilih saham-saham yang bagus dan harganya masih wajar, maka koreksi IHSG tidak akan sampai menyebabkan anda mengalami kerugian, kecuali memang keuntungan yang anda peroleh berkurang signifikan. Hal ini tidak terjadi di Nikkei, Hangseng, Dow, atau bursa-bursa saham lainnya, dimana mayoritas investor disana mengalami kerugian, karena bursa-bursa saham tersebut telah turun tanpa menguat terlebih dahulu.

Jadi pesan yang penulis hendak sampaikan di artikel ini adalah, posisi terbaik pada saat ini tentunya adalah posisi diluar market. Tapi kalaupun anda nggak sempat keluar, maka selama anda masih memegang saham-saham yang benar, anda akan baik-baik saja. Just stick on fundamentals, and you’ll be okay.

No comments:

Post a Comment