Thursday, July 28, 2011

Indospring

Di BEI, Astra Otoparts (AUTO) sangat terkenal sebagai perusahaan onderdil kendaraan bermotor. Namun AUTO bukanlah satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang yang prospektif tersebut. Indospring (INDS) adalah juga merupakan perusahaan produsen spare part otomotif, dengan spesialisasinya yaitu pembuat pegas untuk shock breaker. Dan meski ukuran perusahaannya jauh lebih kecil, namun INDS memiliki kinerja yang tidak kalah bagusnya dibanding AUTO.

Seperti rata-rata perusahaan pendukung industri otomotif lainnya, kinerja INDS terbilang sangat bagus, dan senantiasa berkembang dari tahun ke tahun. Pada kuartal I 2011 kemarin, laba bersih komprehensifnya tercatat Rp35 milyar, naik hingga 112.7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan dan laba operasional perusahaan juga naik signifikan, yaitu menjadi Rp308 dan 49 milyar, sehingga meski terdapat beban dari bunga pinjaman sebesar Rp9 milyar, namun perolehan laba bersih perusahaan tetap saja besar. Kalau kita perhatikan perkembangan laba bersihnya dalam lima tahun terakhir, INDS ini juga sangat menarik untuk diperhatikan.

Sayangnya, seperti kebanyakan perusahaan kecil lainnya dengan aset kurang dari Rp1 trilyun, saham INDS tidak likuid, sehingga pergerakan sahamnya pun tidak wajar, meski dalam jangka panjang dia senantiasa menguat karena kinerjanya memang sangat menarik. Berdasarkan laporan keuangannya pada kuartal I 2011, saham INDS yang dimiliki publik cuma 4.7 juta lembar.

Lalu bagimana dengan right issue yang digelar perusahaan beberapa waktu lalu?

Kalau kita analisis komposisi neraca INDS, maka kita akan menemukan fakta menarik. Awalnya, modal inti INDS hanya Rp37.5 milyar. Setelah ‘diguyur’ oleh tumpukan saldo laba selama bertahun-tahun, maka pada 1Q11 modal alias ekuitas INDS meningkat berkali-kali lipat menjadi Rp263 milyar. Namun ternyata, industri pembuatan shock breaker yang dijalani INDS berkembang lebih cepat, sehingga beberapa aset milik perusahaan seperti pabrik (aset tetap) dan persediaan bahan baku terus saja meningkat, dengan peningkatan yang lebih cepat dari peningkatan modal perusahaan, terutama aset persediaan bahan baku. Pada 1Q11, persediaan dan aset tetap INDS tercatat masing-masing Rp327 dan 191 milyar, atau lebih dari dua kali lipat modal bersih perusahaan. Jadi kekurangan modal untuk membiayai aset tersebut diperoleh dari mana? Ya tentu saja dari utang bank.

Mungkin, PT Indoprima Investama sebagai pemilik mayoritas dari INDS lama-lama capek juga kalau harus ngutang ke bank terus, sehingga yang menikmati perkembangan industri yang dijalani perusahaan bukannya mereka, tapi bank. Makanya mereka kemudian menyuntikkan modal sebesar total Rp284 milyar melalui mekanisme right issue dengan HMETD, dimana mereka mengambil seluruh hak-nya. Masalahnya, setelah right issue ini saham INDS menjadi terdilusi gila-gilaan, karena jumlah saham INDS bertambah beberapa kali lipat, dari sebelumnya 37.5 juta lembar menjadi 225 juta lembar. That’s why tak lama setelah saham hasil right issue INDS tersebar ke market pada tanggal 29 April 2011, saham INDS langsung turun drastis dari 11,000 ke 3,875, setelah sebelumnya di-cooking up dulu dari 7,600 ke 13,200.

Namun INDS ternyata tidak terjerembab terlalu dalam, karena selain fundamentalnya memang bagus, right issue-nya secara tidak langsung membuat sahamnya menjadi jauh lebih likuid (kepemilikan publik di INDS meningkat menjadi 25 juta lembar saham pasca right issue), sehingga investor dengan cepat membeli sahamnya. Alhasil, penurunan INDS berhenti di posisi 3,225, sebelum kemudian dia bergerak menguat kembali dan sekarang sudah berada di posisi 6,050 lagi hanya dalam waktu kurang dari dua bulan (what a gain!).

Okey, jadi sekarang pada harga yang tampaknya sudah naik cukup tinggi, bagaimana prospeknya?

Manajemen INDS langsung bergerak cepat setelah memperoleh dana dari right issue. Hingga tanggal 30 Juni 2011 atau hanya dua bulan setelah right issue-nya, INDS sudah menghabiskan Rp117 milyar dari perolehan dana right issue sebesar Rp284 milyar. Dana tersebut digunakan meningkatkan kapasitas produksi dari tiga buah pabrik shock breaker milik perusahaan, termasuk menambah modal kerjanya. Dengan kapasitas produksi yang lebih besar, maka penjualan INDS sangat berpeluang untuk meningkat lebih tinggi lagi di masa yang akan datang.

Kesimpulannya, meski right issue ini menyebabkan investor publik cukup dirugikan karena saham yang mereka pegang menjadi sangat terdilusi, namun dana yang diperoleh dari right issue tersebut memang sangat bermanfaat untuk membiayai ekspansi perusahaan kedepannya, sehingga sahamnya tetap layak untuk dipegang, karena sejak awal prospek dari ekspansi itu sendiri sudah cukup cerah. INDS tidak hanya menjual produknya di pasar dalam negeri, melainkan juga ekspor.

Sekarang kita lihat valuasi sahamnya. Menggunakan jumlah saham yang baru yaitu 225 juta lembar, dan posisi ekuitas terbaru pasca right issue yaitu sekitar Rp546 milyar, maka harga 6,050 mencerminkan PER 10.9 kali, dan PBV 2.5 kali, masih sangat wajar jika kita mempertimbangkan prospek serta kinerja historisnya, sehingga anda boleh membelinya pada harga tersebut jika memang berminat. Namun kalau dari sisi teknikal, terdapat kemungkinan bahwa INDS akan turun sejenak ke posisi 5,500-an, selain karena faktor profit taking.

Target harga? Selama pergerakan IHSG normal, maka penulis kira target posisi 7,000 sebelum akhir tahun ini tidaklah berlebihan.

PT Indospring, Tbk (INDS)
Rating kinerja pada 1Q11: AA
Rating saham pada 6,050: A
INDS: H1/2011 Result

- http://www.investda ta.net/QQFINDS. TXT

Sector Automotive:
- http://www.investda ta.net/QZB2AUT6. TXT

No comments:

Post a Comment